Apakah Usahamu Sudah Maksimal?

Selamat pagi, Sahabat Kesma. Salam sejahtera, semoga kesejahteraan selalu terlimpah kepada kita.

Setelah Pengumuman hasil banding kemarin, kami menyadari masih banyak Sahabat Kesma yang bandingnya tidak dikabulkan atau dikabulkan namun tidak sesuai dengan kemampuan ekonomi, atau bahkan malah dapat golongan UKT yang lebih tinggi. Tak ayal hal itu pun membuat sebagian besar Sahabat Kesma mulai putus asa, bahkan ada yang ingin mengundurkan diri. Setidaknya itu yang dikeluhkan oleh beberapa Sahabat Kesma di beberapa media online resmi kami.

Melihat kenyataan seperti itu, sejujurnya kami tidak tinggal diam dan tidak menutup mata. Kami bersama segenap elemen lembaga mahasiswa, kawan-kawan Kesma Fakultas dan Senat sudah dan akan tetap berusaha membantu Sahabat Kesma menjadi keluarga baru Undip. Kami sudah sering melobi pimpinan universitas dan fakultas, advokasi, meminta perpanjangan waktu, bahkan telah menyampaikan aspirasi secara terbuka. Namun kami tidak bisa berjuang sendirian, kami perlu dukungan dan semangat perjuangan Sahabat Kesma sendiri. Usaha kami akan sia-sia jika Sahabat Kesma hanya menggantungkan kepada Kami tanpa memperjuangkannya sendiri. Banyak dari Sahabat Kesma sudah putus asa, hanya gara-gara sudah sudah susah payah ngurus berkas sana-sini untuk mengajukan banding, namun setelah pengumuman ternyata banding tidak dikabulkan. Sahabat Kesma jangan mudah terpukau dan silau dengan teman-teman kalian yang bandingnya sudah dikabulkan atau yang sudah terdaftar sebagai calon penerima beasiswa Bidikmisi. Setelah melihat teman-teman yang sudah berhasil dan diri sendiri belum lantas kita dengan mudah nyerah dan menghujat sana-sini. Kalau Sahabat Kesma masih terpukau dengan apa yang diraih orang lain, lalu kapan untuk untuk bisa berjuang meraihnya pula? Tuhanmu tidak akan mendengar keluh kesahmu, tuhanmu tidak akan membalas hujatanmu dengan mengabulkan keinginanmu, tapi usaha dan doamu lah yang bisa mengubah nasibmu sendiri, tidak ada yang jatuh dari langit dengan tiba-tiba.

Hei Sahabat Kesma, hei darah muda, mana semangatmu yang berapi-api itu? apa sudah padam hanya karena hujan kemarin? Apakah Sahabat Kesma sudah tidak percaya pada perjuangan dan usaha? Bagi yang masih percaya, mari kita berjuang bersama-sama, bagi yang tidak, kami hanya ingin menyampaikan sepatah kata berikut “apakah usahamu sudah maksimal?”. Silakan jawab dalam hati Sahabat Kesma masing-masing, jawab jujur silakan, bohong juga silakan.

Bagi Sahabat Kesma yang masih percaya bahwa tidak ada usaha yang bertepuk sebelah tangan, kami beri sepenggal kisah untuk lebih meyakinkan, ini adalah benar-benar fakta tanpa rekayasa, sampai postingan ini diterbikan, orangnya masih hidup dan bisa diverifikasi kebenarannya, sekarang dia aktif menjadi eksekutif muda di Kementerian Kesejahteraan Mahasiswa BEM KM Undip.

7 Juli 2012, aku masih mengingat baik tanggal itu. Ketika itu malam-malam sekitar pukul 21.00 WIB aku mendatangi salah satu warnet di daerahku. Dag-dig-dug, cemas, dan penasaran  rasanya ketika memasukkan nomor pendaftaran ke situs http://www.snmptn.ac.id. Setelah beberapa kali harus mereload browser karena system snmptn down gara-gara trafficnya tinggi, akhirnya sujud syukur langsung aku haturkan kepada Allah swt. Alhamdulillah, Malam itu aku dinyatakan lulus masuk Perguruan Tinggi Negeri Universitas Diponegoro (UNDIP).  Bahagia, senang, gembira campur aduk jadi satu. Akan tetapi, tak selang berapa lama rasa bahagia itu lenyap ditelan bumi setelah melihat pengumuman registrasi calon mahasiswa baru Undip 2012. Betapa tidak, uang awal masuk di UNDIP sebesar 8 juta rupiah. Haaaaa…..

Sebenarnya aku layak mendapatkan beasiswa Bidikmisi, tapi ada satu hal yang “tidak mungkin” bisa  ku penuhi untuk melengkapi  persyaratan beasiswa tersebut. Namun karena ketidakmungkinan itulah yang  mendorongku untuk melanjutkan perjuangan ini. Segera aku menyusun rencana. Langkah demi langkah mulai aku tempuh. Mulai dari konsultasi dengan para Guru, para Sahabat hingga berdoa siang malam terus aku lakukan. Hingga suatu hari ada ide “gila” tiba-tiba keluar begitu saja dari otakku. Aku akan mendatangi dan meminta bantuan ke orang-orang penting di kabupatenku. Ideku ini diamini oleh salah satu Guruku, hingga aku pun nekad melakukannya.

Beberapa hari sebelum verifikasi registrasi, aku manfaatkan untuk “jalan-jalan” di beberapa tempat penting. Target pertamaku adalah ke DRPD Kabupaten. Ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di gedung wakil rakyat dan tidak  tahu harus kepada siapa aku menyampaikan aspirasiku ini. Seperti mayat hidup, itulah yang aku rasakan, sedih tapi bangga, hehe.. Setelah aku rasa gagal, aku pun segera melanjutkan perjalanan, target selanjutnya adalah Dinas Pendidikan Kabupaten. Demi penghematan, aku rela menempuh perjalanan sejauh 7 km dengan kedua kakiku ini. Setiap aku mengeluh kelelahan aku selalu menengadahkan mukaku ke langit, berharap Tuhan melihatku dan memberi semangat kepada hambaNya yang lemah ini.

Setiba di Kantor Dinas Pendidikan, ada hal unik yang aku alami. Ketika aku menyampaikan aspirasiku pasti setiap orang menjawab dengan jawaban yang hampir sama. Saat aku bertemu dengan si A, maka beliau menjawab : “coba temui si B,” akupun menemui si B, dan si B menjawab : “coba temui si C”, begitu seterusnya hingga ke urutan abjad yang kesekian aku pun disuruh untuk menemui seseorang yang “paling tepat”, akan tetapi orang tersebut tidak ada dan aku disuruh pulang dulu dan kembali lagi esok hari. Tanpa bisa bertahan aku pun pulang. Sungguh unik kejadian yang baru aku alami.

Aku tak lantas pulang ke rumah. Di tengah perjalanan aku tak bisa berhenti berfikir, apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Salah satu rencanaku adalah mendatangi anggota DPRD Kabupaten yang kebetulan juga aku mengenal beliau (sebut saja Pak S). Setelah muter-muter tanya sana-sini akhirnya ketemu juga rumah beliau. Setelah menunggu beberapa jam di masjid sekitar rumah beliau, akhirnya beliau pulang dari kerja. Segera aku meluncur, salam sapa langsung terucap ketika aku sampai tepat di pintu depan rumah beliau. Conversation mulai terjadi tanpa ada rekayasa sebelumnya. Setelah semua aspirasiku aku sampaikan, akhirnya beliau memberi jawaban dan syarat berlaku, berikut adalah rinciannya :

  1. Kamu pasti saya bantu dana pendidikan sebesar 1 juta rupiah
  2. Tapi sebelumnya kamu harus mendatangi dulu seluruh “anak buah saya” di desa ini dan menyampaikan apa yang kamu inginkan persis ketika kamu sampaikan disini, bilang saja ini perintah dari saya
  3. Lakukan dengan jujur dan jika semua sudah selesai, kamu harus laporan ke saya.

dengan cepat aku menjawab : “oke pak, siap.” Segera aku pamit dan melaksanakan tugas tersebut.

            Aku tak tahu lagi apa yang akan terjadi selanjutnya. Sekali berfikir selanjutnya langsung kukerjakan, kukerjakan dan kukerjakan. Waktu yang ditentukanpun tiba. Dengan menunggang sepeda jadul milik ibu, aku berkeliling mendatangi satu persatu target-target yang telah ditentukan. Sengaja aku mulai disore hari karena biasanya sore adalah waktu yang tepat untuk istirahat dirumah. Dengan detail aku sampaikan aspirasiku kepada mereka. Ada banyak kejadian unik yang sangat panjang jika kuceritakan disini. Singkat cerita aku telah berhasil mengumpulkan dana sekitar 1,5 juta rupiah. Selama 2 hari aku berpetualang mematuhi tugas tersebut. Sempat ada rasa galau yang amat besar, sering aku bertanya dalam hati kepada Tuhan, apakah yang kulakukan ini benar atau salah? Aku tak ubahnya seperti  “pengemis”. Namun bagiku ini adalah “ngemis yang professional”, yang mampu aku LPJ kan di kemudian hari.

            Karena deadline yang sangat mendesak, aku segera laporan ke Pak S dan Alhamdulillah karena kebetulan di rumah beliau ada buka puasa bareng maka sekalian aku diajak, makan-makan, hehe.. Setelah aku memberikan laporan, dengan segera Pak S memberi dana pendidikan yang telah dijanjikan sebelumnya. Total dana pendidikan yang ku terima saat ini sekitar 2,5 juta rupiah. Meski ini masih jauh dari harapan, aku tetap bersyukur,  Alhamdulillah..

            Meski hanya membawa uang seadanya aku tetap ke UNDIP. Selama perjalanan aku berusaha memantabkan diri untuk gagal, setidaknya aku telah bertanggung jawab. Tapi dalam hati kecil aku tetap yakin bahwa jalan sukses yang belum terlihat pasti ada, inilah motivasi kecil dari dan untukku sendiri yang setidaknya bisa sedikit meredam rasa takut, cemas dan khawatir dalam diriku. Dengan berusaha sms ke semua nomor yang ku kenal, aku mencoba meminta tolong agar bisa didampingi saat tiba di UNDIP. Para kakak kelas di UNDIP, merekalah yang kemudian mengantarkanku ke sesi perjuanganku berikutnya. Aku diantar menemui para Pembantu Rektor di UNDIP. Dengan bantuan dari kakak kelas, aku menceritakan tentang diriku dengan terperinci. “Dari total 8 juta yang harus saya bayar, saya hanya punya uang segini Pak (2,5 juta)” ujarku di saat wawancara dengan salah satu pembantu Rektor . Pasrah tingkat dewa, itulah yang ku alami. Tapi anehnya, setiap aku cerita tentang kisahku, mereka malah tiba-tiba fokus tajam melihatku, terdiam. Bahkan ada beberapa dari mereka yang memberiku dana tambahan. “Serumit itukah kisahku,” pikirku dalam hati. Aku harus menunggu 1 hari lagi untuk mendengar jawaban kepastian tentang nasibku.

            Sehari kemudian aku mendapatkan jawaban bahwa direncanakan aku mendapatkan beasiswa di salah satu Bank ternama di Indonesia. Tapi ada beberapa syarat yang harus ku tempuh, aku harus bekerja di sana dan melakukan tes wawancara. “Iya Pak, siap,” segera aku menjawabnya. Alhamdulillah… ada titik terang. Beberapa hari kemudian aku segera datang ke kantor Bank tersebut, proses wawancara pun segera dimulai. Anehnya, aku merasa setiap jawaban yang kuberikan mengalir begitu saja, tidak ada satu kata pun yang terpeleset dari mulutku. Aku merasa ini adalah interview dan terlancar yang ku alami. Setelah selesai, seperti biasa mereka langsung sejenak terdiam mendengar kisahku dan beberapa saat kemudian aku dapat dana pendidikan lagi, Alhamdulillah…

            Saat verifikasi yang ku kira sebelumnya sudah lancar, ternyata masih ada masalah. Biaya 8 juta yang katanya akan di danai oleh Bank tersebut belum juga cair. Alhasil, aku harus mondar-mandir lagi keliling Rektorat “ngurusi” masalah ini. Ketika itu adalah Ramadhan, dan saya sedang menjalani salah satu kewajiban agamaku, sementara aku harus “ngebut” mengejar deadline, kebayang gak gimana rasanya? hehe.. Ruang Pembantu Rektor, Ruang Administrasi, Ruang KESMA, Ruang Tata Usaha serasa sudah kayak rumahku sendiri. Saat kulihat ekspresi wajah mereka, terlihat sangat bosan melihat tampangku, “kamu lagi kamu lagi,” mungkin itu yang tersirat di pikiran mereka. Namun aku tetap bersyukur, meski belum resmi bayar akhirnya aku bisa lancar melakukan verifikasi. “Blitzz..” kilatan cahaya yang menyilaukan memancar ke wajahku. Selang beberapa menit, wajah, dan namaku tercetak di Kartu Mahasiswa Universitas Diponegoro dengan Nomor Induk Mahasiswa 23010112130155.  Aku telah resmi menjadi Mahasiswa Universitas Diponegoro 2012. Hidup Mahasiswa…!!!  ^_^

6 comments

  1. Kak, dengan hasil banding yang kemarin saya masih keberatan ?
    Apa yang bisa saya lakukan untung tetap memperjuangkannya ?
    Terima kasih

  2. kalau masalah banding, harus ke fakultas masing2,
    jika banding berhasil dan ternyata terlambat sesuai jadwal pembayaran, Insya Allah rektorat bisa membantu,
    aku sudah konfirmasi ke pihak rektorat,

    semangat !

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s