Catatan Hidup

Bismillah. Hikayat, saya dahulu adalah salah satu siswa SMA Negeri 1 Surakarta yang biasa dan apa adanya…

Ibrahim Muhammad Ramadhan, X-10, XI IS 2, dan XII IS 2. Alhamdulillah juga merupakan Kasmadji (Keluarga Alumni Sma Sidji) lulusan tahun 2011. Sekarang sedang menempuh S1 Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP, angkatan 2011.

Sedikit cerita mengenai pengalaman saya ketika berjuang melawan kemalasan diri sendiri sewaktu SMA, perjuangan hidup dan mati melawan diri sendiri beserta ribuan individu lain peserta SNMPTN, serta harus menerima berbagai kenyataan pahit sampai berhasil kuliah dibiayai oleh negara. Saya tidak berharap apapun dari tulisan ini, tapi setidaknya tulisan ini dibaca. Jadi saya ingin menyampaikan kepada pembaca “Sungguh kemuliaan itu ada dalam perantauan di usia muda” –Sayyid Hasyimi.

Waktu beranjak naik ke kelas tiga dahulu, seperti biasa saya sulit beradaptasi dengan pelajaran yang semakin sulit. Padahal seberapa sulit sih pelajaran di bangku ilmu sosial?

Saya pun mulai keteteran untuk mengejar pelajaran, itu saja baru untuk mengejar kepahaman saya sendiri dahulu. Padahal masih ada kompetisi yang sangat ketat di dalam kelas. Belum lagi kompetisi diluar sana yang bagaikan hukum rimba. Saya mendapati diri saya dalam analogi seperti ini, saya seperti bayi yang masih belajar merangkak, sedangkan teman yang lain sudah berlari estafet. What am I going to do? Munggah gunung tok sing di gedhek-gedhekke, opo hasile*. (*hobi saya mendaki gunung)

Itulah sekilas perasaan diri saya ketika harus mengakui bahwa kapasitas diri saya tidak muat untuk menampung kuota pemahaman yang besar. Layaknya sebuah PC Pentium 3 yang akan lemot dan error jika diisi terlalu banyak file atau aplikasi yang besar.

Namun dalam kenyataannya “bukanlah yg paling tajam, tapi yang paling bersungguh-sungguh”. (N5M). Itulah yang saya lakukan, tepatnya itulah yang hanya bisa lakukan saat itu. Hanya berusaha keras. Saya sadar kalo saya tidak pandai, tidak rajin mencatat, kadang malas-malasan bahkan tidur di dalam kelas. Tapi saya akan berusaha dengan kemauan yang keras, dan didasari dengan fondasi motivasi yang kukuh: orang tua.

Lalu bagaimanakah usaha keras itu bisa mewujudkan cita-cita?

Singkat cerita ketika kita harus dihadapkan dengan banyak pilihan dan dituntut untuk memiliki pandangan yang luas dan panjang. Di kening saya sudah tercetak sebuah rumus sederhana IKHTIAR + TAWAKAL = SUKSES. Sebenarnya masih banyak lagi catatan motivasi bagi diri saya sendiri, ketika saya mulai lelah tak bersemangat, saya mencoba membolak-balik kembali catatan lama, kemudian saya temui betapa saya pernah mengalami masa-masa seperti ini dahulu kala. IKHTIAR itu usaha. Jika diuraikan usaha itu berarti: pengorbanan, perjuangan, bangkit (move on), ulet, tekun, tenanan, waktu extra, lelah, terus-menerus, lalu dilengkapi dengan nazar (berjanji). Sedangkan TAWAKAL ialah konsep berserah diri.

Jadi mulai saat itu saya mencoba berbagai peruntungan, segala peluang saya coba. Dimulai dari mencoba mendaftar PPKB UI dimana pusat kajian ilmu sosial terbaik berada disana. Haha bolehlaah, bercita-cita tinggi… namun gagal. Jalur undangan dimana saya juga tidak terlalu berharap banyak, karena lolos di kelaspun tidak, SNMPTN jalur undangan gagal. Bukan berarti masuk PTN melalui jalur ujian tulis merupakan tamu yang tidak diundang, malah kita bangga telah melalui ujian dengan perjuangan. Lalu sejak itu saya sudah fokus dengan satu tujuan yaitu SNMPTN jalur UTUL.

Sembari mempersiapkan diri untuk utul saya juga sempat mengikuti beberapa seleksi masuk yaitu SMBB Telkom Program Unggulan dimana saat mencari jalur kuliah dengan beasiswa agar meringankan beban orang tua. Namun juga  gagal. Pernah juga saya mengaplikasi beberapa program beasiswa, dari beasiswa Etos dari dompet duafa yang ditolak mentah-mentah karena memang diperuntukan bagi yatim-piatu, hingga beasiswa CIMB Niaga yang tak kunjung datang pemberitahuan pengumumannya. Ketika itu saya gencar mencari beasiswa karena kenyataanya memang dari sisi materi orang tua saya hanya seorang pensiunan PNS, dan pastinya akan sangat memberatkan bagi kedua orang tua saya yang sudah lanjut usia untuk berusaha membiayai kuliah saya. Oleh karena itu saya berniat dalam hati untuk mewujudkan impian saya dengan cara mencari kuliah di universitas negeri yang bagus tapi kalau bisa dengan beasiswa. Kalau niat kuat telah dihunus, halangan apapun akan ditebas.

Lalu Allah Subhanahu Wata’ala memberi jalan, terbukalah suatu kesempatan untuk mendapatkan beasiswa dari Dikti Kemenpora, tak basa-basi saya langsung mendaftar. Dan alhamdulillah saya diterima, tapi tidak boleh senang dulu masih ada ujian SNMPTN yang perlu aku takhlukan agar dapat memenuhi syarat full schollarship ini. One down, one more to go.

Hari SNMPTN pun tiba, saya berusaha tenang untuk menghadapinya. Di dalam hati saya berdoa, semoga semua usaha saya selama ini dari bolak-balik les di bimbel siang malam bahkan ditambah les privat, serta doa-doa orang tuaku di tiap sepertiga malam tidak sia-sia. Tetapi saya TETAP merasa belum melakukan going the extra miles.

Singkat cerita lagi, Laa khaula walaakuata illaabillaah saya lolos SNMPTN jalur ujian tulis pilihan kedua. Tuhan kadang tidak memberikan apa yang kita inginkan tetapi apa yang kita butuhkan. Tuhan lebih tau jalan mana yang pantas kita ambil. Serta yang paling membahagiakan, saya tidak perlu meminta uang kepada orang tua untuk biaya masuk universitas, saya juga tidak perlu membayar iuran spp hingga lulus delapan semester. Tetapi perlu progres yang signifikan untuk mempertahankannya, alhamdulillah. Nikmat mana yang akan ku dustakan?

Kepada saudara yang sedang berjuang, saya tidak akan banyak memberi tips. Akan tetapi saya hanya akan berbagi beberapa kutipan dari berbagai buku yang mungkin dapat memacu semangat, dan semoga bermanfaat.

Modalku hanya berani bermimpi, walaupun sejujurnya aku tidak tahu cara menggapainya

Ternyata ada jarak antara usaha keras dengan hasil yang diinginkan, dan jarak itu harus diisi dengan keteguhan hati”

Jangan menyerah. Menyerah berarti menunda masa senang di masa datang

Doa itu dikabulkan bisa dalam bentuk yang kita minta, bisa ditunda, atau diganti dengan yang lebih cocok buat kita

“…berlelah –lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang” (Imam Syafi’i)

Haha sori, sok banget. Fastabiqul khairat.

Ibrahim MR (XII IS 2)  Kasmaji 2011

 

 

 

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s