Calon Mahasiswa dari Keluarga Miskin Tak Bisa Kuliah

Anak dari keluarga miskin di Depok, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tidak bisa melanjutkan kuliah di Universitas Dipenogoro (Undip), Semarang karena tidak memiliki biaya.
 Irvan, siswa Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bina Insan Mandiri Kota Depok, atau disebut Sekolah Master (masjid terminal), hanya memohon doa kepada orangtuanya.

Dia sadar, orangtuanya tak mampu lagi memberi bantuan dana kuliah. Irvan saat ini berjuang mendapatkan keringanan biaya pendaftaran sebagai mahasiswa baru Universitas Diponegoro, Semarang.

“Saya minta doa saja kepada orangtua soalnya mau minta dana, mereka sudah tidak bisa bantu,” kata Irvan, Minggu (6/8/2012), kepada Kompas. Anak sopir taksi di Depok ini tidak sanggup memenuhi biaya pendaftaran di kampus barunya itu senilai total Rp 16 juta. Informasi sementara yang diperolehnya, keringanan tidak bisa didapatkannya, hanya pembayaran biaya itu bisa dicicil maksimal dua kali.

“Saya masih banding dengan tawaran itu, terlalu berat,” katanya di ujung sambungan telepon. Irvan yang sendirian di Semarang sedang mencari tempat indekos sementara sampai proses verifikasi daftar ulang tanggal 8 Agustus.

Dia sudah menemui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip agar dapat membantu meringankan beban biaya pendaftaran. Persoalan yang sama dihadapi enam rekannya yang lain.

Mereka adalah Alfis Syahrin (Jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Jakarta/UNJ), Andika Ramadhan Febriansyah (Jurusan Sejarah UNJ), Bagus Pangke (Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNJ), Dwi Wulansari (Jurusan Sastra Indonesia UNJ), Muhammad Muar (Jurusan Manajemen Universitas Jenderal Soedirman), dan Prayudo (Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNJ). Mereka adalah anak-anak miskin dan anak jalanan yang biasa mengamen hidup di jalan.

Adapun Sekolah Master, tempat mereka belajar, merupakan yayasan sosial yang tidak memungut biaya sekolah. Lokasinya ada di sisi utara terminal Kota Depok, Jalan Margonda. Sehari-hari mereka belajar dengan sarana sekolah yang minim.

Ruang kelas, misalnya, sebagian ada di kontainer bekas, sedangkan gurunya relawan tanpa gaji tetap.

Sumber :

Kompas.com

Editor :

Tjahja Gunawan Diredja

 

 

 

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s