Nekat Berbanding Lurus dengan Keberhasilan

Dengan seni yang kita masukkan dalam tulisan kita dapat membantu orang lain, dengan seni bisa menginspirasi orang lain dan dengan seni bisa membuat diri kita bermanfaaat untuk orang lain. Semakin banyak kita membuat tulisan dan semakin banyak banyak orang yang membaca dan manjadi terinspirasi semakin banyak pahala yang kita dapatkan, dan dengan seluruh media yang kita aplikasikan untuk menuangkan tulisan maka semakin keterbatasan ruang, waktu dan dan gerak menjadi semakin tidak terbatas sehingga arus informasi akan terus mengalir abadi.
Berawal dari Seorang pemuda desa dengan modal kenekatan untuk meraih keberhasilan yang berharap mampu menginspirasi Indonesia, sebut saja namanya Naufa, salah satu pelajar madrasah aliyah Miftahul Huda Tayu-Pati (setingkat SMA) yang saat itu duduk di bangku kelas XII IPA, dimulai dari rombongan pemuda”sebut saja mahasiswa” melakukan brifng atau sosialisasi tentang perkuliahan di sebuah sekolah kecil di pedalaman desa (bahkan banyak orang tidak tahu itu sekolah apa dan mungkin tidak terdaftar di peta). Rombongan mahasiswa tersebut menyampaikan beberapa informasi perkuliaahan yang ada di Semarang seperti UNDIP, Polines dan UNNES. Mereka menyampaikan pula informasi bagaimana hidup di Semarang beserta kelbihan dan kekurangannya, satu hal yang membuat aku tertarik yaitu informasi beasiswa yang ditawarkan, beasiswa etos “kata mereka”. Sebuah beasiswa yang memfasilitasi biaya perkuliahan, biaya hidup dan tempat tinggal untuk setiap pemuda di negeri ini yang kurang mampu dan berprestasi. Salah satu siswa mengacungkan tangan”bolehkah saya mencoba masuk undip dan memfoto copy formulir beasiswanya??”ujar Naufa. “Boleh” jawab salah satu dari rombongan mahasiswa. Seketika itu seluruh teman-teman sekelas Naufa menertawakannya karena dia kurang terkenal di sekolah, siswa biasa yang tidak pernah mempunyai prestasi di sekolah, culun atau kurang gaul dan teman-temannya berkata “yang masuk 10 besar kelas saja kemarin pada mencoba masuk undip melalui jalur mandiri gagal apalagi kamu”. “Memangnya apa salah jika ada orang yang ingin mencoba?”ujar naufa. Akhirnya Naufa memfoto copy formulir pendaftrannya, namun ketika mencoba mengkomunikasikan dengan orang tuanya yakni sang ibu dan kakek, “sudah lah nak, kamu jangan bermimpi untuk kuliah, ibu ini sudah lama ditinggal bapakmu tidak tahu entah kemana sejak lama, ibu hanya seorang pedagang tempe, yang penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja, bahkan spp sekolahmu saja belum lunas kan?”ujar sang ibu, Naufa pun akhirnya pergi dari rumah sampai larut untuk menenangkan hatinya yang bermimpi untuk bisa kuliah dan mendapatkan beasiswa tetapi pupus karena orang tua tidak menyetujui. Sesampainya dirumah, ibunya berkata kepada sang anak “nak,ibu setuju kalau kamu mendaftar kuliah, tapi ibu tidak sanggup untuk membiayai, apabila kamu nekat ingin kuliah asal mendapat beasiswa tidak apa-apa”.
Akhirnya Naufa menyiapkan semuanya, mulai dari mendaftar beasiswa etos dengan mengisi form, melengkapi foto, legalisir rapor (meskipun sempat ditolak waka kurikulum tapi kemudian mendukung), surat keterangan tidak mampu dari kelurahan (alur yang cukup sulit dan panjang), foto copy kartu keluargam rekening listrik, surat keterangan penghasilan orang tua dan foto rumah (depan, belakang dan bagian dalam rumah), setelah semuanya terkumpul diserahkan ke waka kurikulum sekolah untuk dikirim ke alamat beastudi etos. Beberapa minggu kemudian Naufa mendapatkan pengumuman kalau dirinya lolos seleksi beastudi etos oleh panitia dan mohon segera ke beastudi etos semrang untuk tes tulis dan wawancara, akhirnya Naufa pun gembira dirinya berhasil lolos, tapi yang menjadi masalah adalah dia tidak pernah ke semarang dan tidak tahu semarang, bahkan pergi ke kota Pati pun yang terdekat dari tempat tinggalnya tidak pernah. Dengan bermodal nekat yang hanya membawa uang 150 ribu dia pergi ke Semarang seorang diri, sepangjang perjalanan dari Tayu ke Pati dan Pati ke Semarang setiap orang yang duduk disampingnya ditanyai, “Pak, Bu apakah ini betul ke arah semarang” pertanyaan yang sering ditanyakan Naufa. Akhirnya sampailah di Kota semarang dan sampai di tempat seleksi beastudi etos, sesampainya disana Naufa mengikuti tes tulis seperti pengetahuan agama dan mengambil nomor antrian (ternyata dia diurutan terakhir untuk wawancara), saat yang mendebarkan tiba, dia pun akhirnya diwawancarai oleh salah satu panitia dan pertanyaan yang paling diingat adalah “bagaimana jika nantinya kamu gagal?”ujar panitia. “Tidak apa-apa mas, bagi saya ini semua belum berakhir, dunia masih tetap utuh dan dunia juga belum kiamat, saya akan berusaha untuk tetap bisa kuliah, berusaha untuk dapat beasiswa dan saya akan nekat untuk semuanya”ujar Naufa. Satu bulan kemudian dia mendapat telfon dari panitia beasiswa etos. “selamat anda lolos tahap wawancara dan segera kami akan survey rumah anda” ujar panitia. Panitia beastudi etos kemudian berhasil menemukan rumah Naufa setelah menempuh perjalanan panjang dan menanyakan ke banyak orang, mereka juga memfoto ulang rumahnya, mewawancarai orang tuanya dan tetangganya. Setelah semua data yang harus diambil panitia beasiswa etos akhirnya pulang ke Semarang. Seminggu setelah survey dia mendapat telfon lagi, “selamat anda sudah lolos semua tahapan seleksi, sekarang tahapan terakhir anda harus lolos snmptn dan masuk di jurusan dan perguruan tinggi yang etos rekomendasikan” ujar panitia. Kemudian Naufa mendaftar snmptn (di undip pleburan waktu itu dan pendaftar harus mendaftar secara manual, datang sendiri dan mengisi form yang disediakan), tahap selanjutnya yaitu tes SNMPTN. Seminggu sebelum tes SNMPTN dilaksanakan dia nekat ke Semarang untuk persiapan SNMPTN dengan mencari tumpangan di tempat terdekat dari lokasi tes, dan meminta bantuan di ajari cara mengerjakan SNMPTN (karena soalnya berbeda dari soal-soal yang pernah dijumpai selama ini) oleh seorang kakak mahasiswa Polines yang mendapatkan beasiswa dari diknas Pati “sebut saja kak Ali”, beliau juga merupakan salah satu dari rombongan mahasiswa yang memberikan informasi perkuliaahan dan beasiswa etos ke sekolahnya Naufa. Setelah melewati tes SNMPTN akhirnya Naufa melihat pengumuman di warnet dan “SELAMAT ANDA DITERIMA DI NUTRISI & MAK. TERNAK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG”.
Serasa mimpi dia berterima kasih kepada semua orang yang telah membantunya dan melaporkan ke etos kalau dirinya diterima, tahap selanjutnya yang harus ditempuh adalah registrasi di SNMPTN dimana harus membayar uang sejumlah 3,9 juta ke rekening rektor undip dua minggu setelah pengumuman, kemudian permasalahan besar pun muncul, waktu pembayaran kurang seminggu dan dia harus membayar biaya registrasi atau statusnya sebagai calon mahasiswa UNDIP gugur semetara etos belum pengumuman secara resmi dia benar-benar diterima atau tidak karena masih menunggu dari etos pusat meskipun Naufa telah lolos semua tahapan seleksi. Hari pengumuman pun datang, dia mendapat telfon dari panitia “Dik, mohon maaf yang sebesar-besarnya anda tidak lolos etos karena kuota untuk jurusan anda sudah terpilih orang lain, yang mana orang itu dianggap panitia pusat lebih layak, kalau seandainya anda masuk dijurusan lain pasti diterima, tetapi dari panitia beasiswa etos menawarkan kalau berkenan bisa dibantu untuk keringanan biaya masuk dan dibantu untuk mencari beasiswa lain” ujar panitia. Sesaat setelah itu semuanya serasa hancur dan membuat Naufa berat hati menerima semuanya. Naufa harus memilih apakah melewatkan kesempatan untuk menjadi mahasiswa di UNDIP karena tidak punya uang untuk registrasi atau berusaha memproses keringanan dan berusaha mencari beasiswa lain.
Keputusan terakhir yang Naufa ambil adalah berusaha memproses keringanan biaya masuk dan berusaha mencari beasiswa lain,waktu kurang 4 hari pembayaran, dan dia nekat ke Semarang lagi untuk memproses keringanan. Sesampainya di Etos Semarang dia diantar menuju ke Soedarto untuk bertemu KESMA BEM KM UNDIP, namun dia juga harus berjuang menunggu antrian untuk bisa masuk ke soedrato dan bertemu dengan kesma bem dari pagi sampai siang hari, akhirnya berhasil bertemu dan diarahkan untuk mengajukan keringanan dan mendaftar beasiswa eka tjipta foundation asal bisa melengkapi syarat-syarat seperti waktu dia mengajukan etos, karena syarat yang diperlukan cukup banyak sementara waktunya kurang 3 hari Naufa mencoba meminta berkas-berkas yang ada di etos tetapi sudah tidak ada karena sudah dikirim ke panitia pusat yang ada di Jakarta, akhrinya dia pulang ke Pati lagi dan mencoba memproses syarat-syarat berkas yang harus di lengakapi ke sekolahan dan ke kelurahan, meskipun sulit dan lama dia tetap berusaha melengkapinya dan semua berkas berhasil di lengkapi. Selanjutnya Naufa kembali ke Semarang lagi dan bertemu KESMA BEM untuk kedua kali dan menyerahkan syarat-syarat yang diminta dan selanjutnya di antar oleh KETUA SENAT KM “sebut saja Mas Offis” dipertemukan dengan pembantu rektor III (Bpk. Sukinta, SH. M. HUm) yang pada akhirnya keputusan yang diberikan hanya bisa membantu berupa penangguhan dana SPI (Rp. 2.250.000) yang mana biaya yang ditangguhkan tetap harus dibayar semester berikutnya dan tetap harus membayar komponen biaya selain spi yang totalnya masih 1,6 juta, karena tidak mempunyai uang sama sekali akhirnya Naufa pulang ke Pati lagi pergi menjual hp mendapat 150 ribu, kemudian Ibu nya membantu menjual satu-satunya perhiasan peninggalan Bapakya dan mendapat 900 ribu dan sisanya Naufa mencoba mengajukan pinjaman ke sekolahan dan yayasan, setelah mencoba melobi ke sekolahan akhirnya sekolah dan yayasan tidak berani memberikan pinjaman karena tidak ada yang bisa dijaminkan, setelah itu Ibunya mencoba mengajukan pinjaman ke Bank dan mendapat uang untuk melengkapi kekurangan uang yang harus dibayar.
Naufa menuju ke Rektorat untuk bertemu pembantu rektor III lagi dan selanjutnya mendapat surat rekomendasi untuk diputuskan oleh rektor undip (Bpk. Prof. Dr. dr. Susilo Wibowo, MS, M.Ed, S. PAnd) dan akhrinya tinggal membayar ke Bank 1,6 juta saja. Hari terakhir pembayaran SPP Naufa pergi ke bank dengan membawa uang sebanyak 1,6 juta sementra dia tercengang dengan orang yang berada disampingya membawa uang satu koper sebesar 150 juta yang mana sama seperti dia mau membayar registrasi di undip tetapi biaya yang harus dikeluarkan selisihnya jauh sekali. “Setelah registrasi rasanya seperti mimpi saya benar-benar menjadi mahasiswa UNDIP dimana waktu itu teman-teman menertawakan saya” ujar Naufa. Tetapi semuanya belum berakhir, selanjutnya Naufa harus berfikir bagaimana dia hidup nanti sebagai mahasiswa, bagaimana dia membayar pelunasan SPI yang ditangguhkan, dan dimana dia nanti tinggal.
Awal dari kisah sebagai mahasiswa, Naufa tinggal dengan menumpang di asrama etos sampai hampir 2 bulan, kemudian ada desakan kalau tempat tinggalnya akan ditempatin yang lain. Naufa berusaha mencari masjid agar dia bisa tinggal secara gratis dengan menjadi takmir tetapi di sangkal oleh dosen di fakultas agar mencari tempat tinggal yang layak dan masjid itu digunakan untuk ibadah, kemudian diantar oleh seorang kakak “sebut saja mas Nandar” menyampaikan informasi kalau dibuka kos murah yaitu pesma “pesantren mahasiswa hanya dengan 500 ribu bisa tinggal untuk dua tahun”, setelah itu dia mencoba mendaftar, melewati seleksi dan akhirnya lolos dan tinggal di pesma. Selanjutnya ada pengumuman dari rektorat untuk yang mendaftar beasiswa Eka Tjipta Foundation akan dilakukan seleksi wawancara, kemudian Naufa mengikuti tahapan seleksi tersebut, sebelumnya dia takut karena jumlah yang mendaftar 60 orang lebih dan semuanya punya prestasi yang membanggakan seperti olimpiade, kejuaraan dan lain sebagainya sementara dia tidak mempunyai prestasi apapun tetapi tetap nekat saja. Akhrinya sampai pada tahap pengarahan wawancara, disampaikan oleh Manajer Program “Bapak Charles W” bahwa selain di UNDIP kemarin disampaikan bahwa di Universitas Indonesia (UI) mahasiswa yang merupakan seorang pemulung sampah, tidak mempunyai kedua orang tua (yatim piatu) dan hanya mempunyai tempat tinggal sebatas rumah semi permanen dari kardus yang berada di kolong jembatan dekat monas dengan semangatnya yang luar biasa berhasil masuk di UI dengan biaya Rp. 0 rupiah (tidak membayar sama sekali). Itu adalah salah satu ilustrasi yang membuat Naufa sangat bersemangat. Akhirnya tahap wawancara pun berlalu, setelah diajukan beberapa pertanyaan selama kurang lebih 5 menit, selanjutnya tinggal menunggu pengumuman. Setelah satu bulan kemudian, pengumuman pun muncul dan Naufa berhasil lolos beasiswa tersebut dan mendapat beasiswa sebesar 5,6 juta per tahun sampai 4 tahun. Uang beasiswa yang didapat kemudian digunakan untuk biaya hidup dan melunasi SPI yang ditangguhkan.
Selanjutnya Naufa mulai berjuang agar dia bisa membantu dan menginspirasi orang lain. “Saya dulu dibantu oleh orang selanjutnya saya harus bisa membantu orang lain dan bisa membuat lebih banyak orang lagi yang kurang mampu untuk bisa kuliah dan mendapat beasiswa”. Mulai dari itu dia berusaha mengukir prestasi sebanyak mungkin dengan ikut BEM Fakultas, rohis fakultas dan organisasi kemahasiswaan daerah. Menjadi peserta terbaik LKMM Pra Dasar Nutrisi dan Makanan Ternak, peserta terbaik LKMM Dasar fakultas dan Delegasi LKMM Madya Universitas, berhasil lolos seleksi program mahasiswa wirausaha (mendapat dana 19 juta) dan menjadi Juara ke 3 Mawapres Pada Fakultas Peternakan (mendapat hadiah 750 ribu) dan prestasi non akademik lain.
Terakhir, mencoba mengabdi menjadi mentri kesma bem km undip agar bisa membantu seluruh mahasiswa yang kurang mampu yang ingin mendapat beasiswa dan masuk di Undip, membantu mahasiswa kurang mampu yang ingin mendapatkan beasiswa dengan memberikan informasi beasiswa, dan menulis sebuah buletin beasiswa undip yang dibagikan kepada mahasiswa beberapa daerah untuk disampaikan keseluruh sekolah di daerah tersebut. Melalui seluruh media online seperti facebook, web, twitter dan blog serta sms. Dan juga dengan menugasi seluruh staff fungsionaris kesma bem km dan bem km undip untuk membantu penyebaran informasi beasiswa ke seluruh SMA yang dikenal dan akhirnya harapan untuk menginspirasi seluruh siswa kurang mampu untuk mendapatkan beasiswa sedikit tercapai. Kemudian merintis gerakan 10 ribu per dosen per bulan yang akhirnya terkumpul 3 juta rupiah untuk membantu mahasiswa yang kurang mampu, terjun ke sekolah-sekolah untuk memberikan motivasi dan membuat seminar beasiswa luar bnegri untuk membuat banyak orang berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negri.
By : Ahmad Maulin Naufa

2 comments

  1. mas naufa, walaupun saya bukan penerima beasiswa tp kadang sy pgn tau seberapa susah sih cri beasiswa dg kondisi keuangan yg terbatas. ternyata memang butuh PERJUANGAN dan PENGORBANAN seperti mas naufa tuliskan di atas… semoga tulisan ini bs menginspirasi org lain.. keterbatasan uang bs tertutupi dg modal nekat🙂

    salam hangat
    HH

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s